Bayi yang Menggemaskan

SEJARAH
11 September 2005, dikala dunia sedang mengenang sebuah bencana kemanusiaan yang pernah terjadi di New York pada Gedung World Trade Center (WTC), di Rumah Dunia (RD) berkumpul Mas Gong (Gola Gong), Ibnu Adam Avicena, Najwa Fadhia, saya sendiri (Imam Salimy), Suzan Awallia, Sri Sudewi Widanarti dan Khoirunisa. Ketika itu sore mulai menjelang, pertemuan yang diliputi wajah-wajah kelelahan dari Mas Gong, Najwa dan Ibnu tidak mengurangi semangat pembicaraan kala itu, maklum RD baru saja merampungkan hajat besarnya yakni Gramedia Book Fair dengan acara Banten Peduli Membaca-nya.



Bukan diskusi reaktualisasi kejadian mengenaskan rakyat Amerika itu yang kami bahas, tapi sebuah rencana besar (menurut saya) akan sebuah masa depan sastra Islami di Propinsi Banten khususnya. Kami merencanakan sebuah hajatan yang tak kalah besar pula dengan acara RD yang ketika itu baru saja usai, yakni Musyawarah Wilayah (MUSWIL) I FLP Wilayah Banten. Semestinya ketika itu harus hadir pula Kang Naijan (Naijan Lengkong) sebagai orang yang pernah mendapat mandat dari pusat sekitar tahun 2003 (kala itu masih masa pemerintahan Mbak Helvy) untuk mendirikan FLP Wilayah Banten, walaupun pada akhirnya Kang Naijan lebih cenderung mengurus perkembangan FLP Cabang Tangerang terlebih dahulu. Tapi karena Kang Naijan ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal, beliau tidak bisa hadir.

Dan atas rahmat Alloh yang Maha Kasih, tak sampai sebulan setelah pertemuan itu MUSWIL I FLP Wilayah Banten bisa terlaksana. Tepatnya Hari Ahad, tanggal 2 Oktober 2005 di Masjid Raya Al ‘Adzhom Kota Tangerang. Selain dihadiri dari para calon pengurus perwakilan FLP Cabang Tangerang, FLP Cabang Serang dan FLP Ranting Balaraja juga dihadiri oleh perwakilan BPP FLP, yaitu Mbak Dee (Rahmadiyanti Rusdi, Koordinator Divisi PSDM) dan Mbak Azi (Azimah Rahayu, Ketua Harian). MUSWIL I diadakan mulai pukul 09.00 s.d 17.00 WIB dengan menghasilkan beberapa agenda program kerja dan terpilihnya ketua FLP Wilayah Banten yang pertama, yaitu Naijan Lengkong.

Ada sesuatu hal yang unik dari perkembangan FLP di Wilayah Banten. Bila perkembangan FLP di beberapa tempat di mulai dari struktur Kepengurusan Wilayah baru Cabang, maka di Banten terjadi hal yang sebaliknya, yakni struktur Kepengurusan Cabanglah yang terbentuk terlebih dahulu. Dua Kepengurusan Cabang yang terbentuk sebelum adanya Kepengurusan Wilayah adalah FLP Cabang Serang dan FLP Cabang Tangerang. Bahkan FLP Ranting Balaraja juga berdiri sebelum terbentuknya FLP Wilayah Banten. Maka akhirnya terjadilah sedikit kericuhan sistem organisasi, yakni tidak adanya struktur wilayah yang akan melantik Kepengurusan Cabang. Nampaknya memang sepele karena persoalannya hanya sebuah acara ceremoni belaka, namun hal itu justru menunjukkan putusnya mata rantai organisasi yang pokok dan ini merupakan kekeliruan sistem yang sebenarnya tak perlu terjadi. Namun semenjak terpilihnya Kang Naijan sebagai Ketua FLP Wilayah Banten periode 2005-2007 masalah tersebut teratasi dengan sendirinya. Sekarang yang jadi masalah adalah, bagaimana caranya mengejar ketertinggalan FLP Wilayah Banten dengan wilayah-wilayah yang lain, yang sudah lebih dahulu berkiprah di bidang dunia kepenulisan dan keorganisasian?

BAYI
Tak ada yang lebih membahagiakan dari suatu keluarga selain dari lahirnya seorang bayi yang akan menambah suasana ceria dan harapan. Begitulah kira-kira warna yang menyambut kelahiran FLP Wilayah Banten. Munculnya harapan-harapan baru dari seorang bayi dalam keluarga adalah sebuah kewajaran, begitu pula dengan Kepengurusan FLP Wilayah Banten yang pertama ini. Dipenuhi oleh harapan-harapan dari para kader-kadernya. Banten dengan segala potensinya menanti tangan-tangan kreatif para Pengurus FLP Wilayah Banten khususnya dan umumnya seluruh kader FLP yang ada di Banten. Namun bukan perkara mudah untuk membangun budaya baca yang memasyarakat di Banten, apalagi mencetak penulis-penulis andal yang keilmuannya mumpuni dan berdaya guna. Membangun Banten akan membawa kita pada dua dunia, yakni dunia masa lalu dengan feodalistik, kejumudan dan mistikismenya. Lalu dunia yang kedua adalah dua modernisasi yang setengah hati dan salah kaprah, sehingga yang ada adalah ketimpangan budaya (mestizo culture dan culture lag). Meskipun di satu sisi lain pun Banten kental dengan nilai spiritualitas keberagamaannya tapi tak dapat dipungkiri pula kalau Banten itu penuh dengan kebobrokan yang memalukan.

Maka FLP Wilayah Banten harus menjadi “bayi yang menggemaskan”. Bayi / anak kecil adalah lambang kreatifitas tanpa batas dan ketakutan. Ia akan lakukan apa saja sejauh itu menarik hatinya, sehingga muncullah kreatifitas tanpa tendensi dan tanpa beban. Bebas, lepas, dengan kenakalannya “yang wajar” sebagai seorang anak kecil. FLP Wilayah Banten perlu itu dan Insya Alloh akan berupaya ke arah sana.

PARTNER RUMAH DUNIA Keberadaan RD selain sebagai epidemi penulis FLP Wilayah Banten (sebut saja Qizink La Aziva, Ibnu Adam Avicena, Rimba Alang-Alang, Najwa Fadhia, d.l.l. merupakan aktivis pentolan di RD) juga akan menjadi alat ukur pergerakan FLP Wilayah Banten. RD akan menjadi cermin berkembang atau tidaknya FLP Wilayah Banten. Hal ini penting dan memang sangat perlu, keberadaannya akan menjadi pemicu inovasi dan kreatifitas kader-kader FLP di Banten. Saling berlomba untuk berkarya menjadi yang terbaik dan berguna bagi masyarakat adalah keharusan, dan ini pun sesuai dengan asas kompetensi di FLP.RD dan FLP Wilayah Banten mesti melangkah seiring sejalan, tak ada perbedaan visi dan misi di keduanya, yang ada hanya perbedaan corak bergerak untuk mencapai tujuan yang sama. RD dan FLP Wilayah Banten adalah barometer dan partner.

PROGRAM
Ini adalah program kerja FLP Wilayah Banten periode 2005-2007 yang merupakan amanah dari MUSWIL I :

1. Membangun sistem komunikasi antar pengurus wilayah, cabang dan ranting serta anggota di Banten dengan membuat milist FLP Wilayah Banten.
2. Mengadakan pertemuan rutin setiap tiga bulan sekali dengan pengurus cabang dan ranting sebagai wahana silahturahmi, konsultasi, dan pembangunan jaringan struktur organisasi yang solid dan kokoh di Wilayah Banten.
3. Mengadakan diskusi-diskusi kebudayaan dalam acara bedah buku, bedah film, temu penulis dan kritik sastra yang waktu dan pelaksanaanya disesuaikan dengan kondisi dan aktivitas FLP cabang dan ranting.
4. Melakukan kegiatan pembinaan kepenulisan, keorganisasian dan ke-Islaman untuk pengurus cabang dan ranting.
5. Mengadakan kegiatan pelatihan-pelatihan kepenulisan fiksi maupun non fiksi, jurnalistik dan pembuatan skenario untuk jenjang Madya.
6. Mengadakan acara yang bersifat membangkitan minat baca dan menulis di masyarakat.
7. Mengadakan acara akbar berupa Banten Book Fair dan FLP EXPO.
8. Membantu pembentukan FLP Cabang di Wilayah Banten.
9. Merintis pendirian Rumah Cahaya di Wilayah Banten.
10. Menyelenggarakan sistem administrasi organisasi yang rapi dan profesional.
11. Membuat antologi cerpen anggota FLP untuk Wilayah Banten.

PENGURUS

Majelis Penulis :
1. Gola Gong
2. Boim Lebon
3. Novia Syahidah
4. Yus R. Ismail
(3 dan 4 merupakan MP yang berwenang untuk mengeluarkan sertifikasi logo FLP untuk karya anggota FLP Wilayah Banten)

Ketua : Naijan Lengkong
Sekretaris : Imam Salimy
Bendahara : Suzan Awallia

Divisi Kaderisasi dan Jaringan Cabang :
Koordinator : Ibnu Adam Avicena
Anggota : Rimba Alang-Alang

Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM)
Koordinator : Qizink La Aziva

> Divisi Hubungan Masyarakat (HUMAS) dan Dana Usaha (Danus):
Koordinator : Rochmat Utomo
Anggota : Irmayanti

> Ketua FLP Cabang Serang: Najwa Fadhia
Ketua FLP Cabang Tangerang: Suhadi
Ketua FLP Cabang Pandeglang: Yeni Trisnani
Ketua FLP Cabang Cilegon: Asri Surtayati
Ketua FLP Cabang Lebak: - Ketua FLP Ranting Balaraja: Zamharotul Auliya

Jumlah seluruh pengurus FLP di Banten (Wilayah, 4 Cabang dan 1 Ranting) 76 orang.

KHOTIMAH
Meskipun singkat, semoga ada gambaran dibenak rekan-rekan yang ingin mengenal FLP Wilayah Banten. Khusus bagi teman-teman penulis, selamat berjuang dan We Must Do Action!

 

Copyright © 2018 Rumah Dunia. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU General Public License.