Rumah Dunia

Sunday
May 19th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

[#123] Refleksi Tiga Tahun Rumah Dunia

E-mail Print PDF

Salam dari Rumah Dunia – Radar Banten edisi 31 Maret 2005

Maret sudah berlalu. Tiga tahun umur Rumah Dunia menggelinding sudah. Saya teringat hari-hari pertama bersama (almarhum) Rys Revolta, Abdul Malik (redpel Radar Banten) dan Toto ST Radik d awal tahun 2002. Saat itu kami berkumpul di rumah Toto. Malik mengusulkan, “Bagaimana kalau Rumah Dunia bikin jurnal di Radar Banten?” Saya langsung mengiyakan. Ini adalah promosi ideal dan strategis. Terbukti, dampaknya sangat dahsat. Hampir 90% informasi tentang Rumah Dunia sampai ke orang-orang lewat “Salam dari Rumah Dunia”. Misalnya suatu Sabtu, saat diskusi, selalu saja ada wajah-wajah baru yang datang. Saat saya tanya, “Tahu dari mana ada kegiatan Rumah Dunia hari ini?” Mereka menjawab, “Saya baca Radar Banten Kamis kemarin.”

***

YISC AL AZHAR
Ya, tiga tahun Rumah Dunia menggelinding. Waktu semakin tidak terasa hadirnya. Saya tahu hari sudah berganti lagi ketika bangun di pagi hari. Otak saya langsung bekerja. Aha, ada kegiatan apa lagi hari ini di Rumah Dunia? Tidak akan pernah berhenti selama Allah masih meridhoi dan mencintai orang-orang yang berkegiatan. Itu tidak bisa kami bendung dan tahan-tahan lagi. Semua orang yang ada di umah Dunia sudah mencintai kegiatan. Bahkan segenap isinya, seperti buku-buku dan pepohonan. Andai saja mereka bisa berbicaya, pasti kami akan mendengar: menjadi penting itu bukanlah hal luar biasa, tapi menjadi berguna itu adalah hal yang sangat penting.

Seperi hari Jum’at (25/3) lalu. Sekitar 15 orang pemuda dan pemudi dari “Youth Islamic Study Centre” Al-Azhar Jakarta, datang ke Rumah Dunia membawa sekitar 20 anak-anak tidak mampu. Saya tahu, mereka termasuk yang ingin hidupnya berguna bagi orang lain. Rudi, kepala rombongan mengatakan, “Ini demi persaudaraan, persahabatan, dan memberi kebahagiaan pada anak-anak.”

Kami pun membuka pintu lebar-lebar. Tias Tatanka dan Ade Mulyawati mengerahkan anak-anak wisata lakon/teater. Mereka memberi suguhan pertunjukan teater “Parodi Anak Sekolah.” Dari anak-anak YISC Al-Azhar pun memberi kado pertunjukan games. Bahkan di sela-sela itu ada pembacaan puisi. Terjadi pertukaran informasi hari itu. Mhaex Maranoes, pelukis asal Benggala, Serang, yang sedang pameran tunggal di Rumah Dunia, membagi-bagikan ilmu dan pengalamannya pada merka. Ibnu Adam Aviciena dan Wangsa Nestapa tidak mau ketinggalan. Sekitar 8 anak diberi pembekalan tentang bagaimana caranya membuat majalah dinding dan jurnal secara cepat. Hari itu, semua sudut di Rumah Dunia; panggung, plaza, ban-ban, pendopo, galeri, mushola, pojokan pohon pisang dan rumpun bambu, menjadi areal berbagi rasa, cinta dan ilmu lewat kata, warna, dan suara.

Ketika mereka pulang, kami merasa berbahagia. Hari itu kami merasa menjadi orang yang berguna bagi orang lain. Kami tahu, keesokan harinya, Sabtu (26/3), kami harus bangun dari tidur yang tidak pernah panjang, karena ada kegiatan lain yang sudah menanti, yaitu debat visi calon bupati Serang. Nara sumbernya adalah Taufik Nuriman (TN), calon bupati yang dijagokan PKS dan PD.

DEBAT

Hari Minggu pagi, saya terbangun. Hujan deras memukuli bumi sejak semalaman. Pagi ini saya berjanji akan membawa Bella, Abi, dan Odi jalan-jalan ke Super Mall, Cilegon. Di sana ada arena petualangan yang seru bagi anak-anak. Ini adalah kewajiban saya sbagai ayah dan suami. Sorenya akan ada refleksi Rumah Dunia. Brsama peserta kelas menulis Rumah Dunia angkatan kelima dan Jaya komarudin dari Imajinasi Multimedia, kami siap berbagi wawasan. Ya Allah, beri saya kesehatan!

Saya sejenak mengingat acara debat visi calon bupati pada Sabtunya (26/3), yang berjalan sukses. TN cukup berendah hati juga. TN mau berinstropeksi di depan cermin yang dipajang oleh Wangsa, Rimba, Qofal, dan Aji. Kami dan peserta diskusi sempat cemas, khawatir TN menolak. Itu adalah proses ritual di Rumah Dunia, yang harus dilewati TN sebelum diskusi dimulai. Itu semacam simbol, bahwa TN siap dikritik oleh rakyat Serang yang kelak akan memilihnya. Saya tersenyum jika ingat TN bercermin dengan baju safarinya. Membetulkan letak pecinya. Toto ST Radik berteriak dengan lantang saat itu, “Nanti kita lihat lima tahun ke depan, jika TN terpilih jadi bupati Serang, perutnya akan gendut karena memakan yang bukan haknya, atau tidak!”

Tidak itu saja. TN menandatangai kontrak politik, yaitu siap membangun perpustakaan dan gedung kesnian Serang. Dan Rp. 1 jt dirogohnya untuk operasional Rumah Dunia. “Ini infaq dan sodakoh,” TN menegaskan. Semoga saja para calon bupati Serang lainnya, punya prilaku yang sama dengan TN, berendah hati. Semoga saja itu bukan akal-akalan dari merka, yang ingin kelihatan baik di depan kami. Jika mereka bohong, kami tidak akan segan-segan menagihnya.

DIKNAS
Kini minggu terakhir di bulan Maret akan kami tapaki. Ibnu, Rimba, Wangsa, Aji, dan Deden sibuk mempersiapkan kegiatan lain pada Sabtu, 2 April nanti. Rumah Dunia akan berkunjung ke Perpustakaan Pendidikan Nasional, Jakarta, jam 13.00 – 16.00. Akan bedah Rumah Dunia di sana oleh Wien Muldian, pengiat “Forum Indonesia Membaca” dan Kepala Perpustakaan Diknas. Kami juga akan mempertunjukan wisata lakon/teater serta wisata gambar. Beberapa novel Rumah Dunia pun akan diluncurkan. Mulai dari novel “Gerimis Terakhir” (Dar!Mizan) goresan Qizink La Aziva, “Mana Bidadari Untukku” (Beranda Hikmah) karya Ibnu Adam Aviciena, dan “Sayap-sayap Ababil” (MU3) buah tanan Firman Venayaksa. Juga antoloji cepenis Rumah Dunia; Kacamata Sidik (Senayan Abadi), dan Padi Memerah (MU3).

Spora dan Metro Serang menyokong biaya operasional Rumah Dunia hari itu. Masing-masing menyumbang uang sebesar Rp.500.000,- Pemkab Serang memberikan bantuan mini bus untuk mengangkut sekitar 50 anak plus volunteer. Yaya Suhendar dari Perpustakaan Provinsi Banten dengan antusias menyatakan keinginannya untuk ikut serta. Kata Yaya lewat SMS, “Mobil saya bisa dipakai! Muat sepuluh orang!”

Kami tahu, pada Minggu, 3 April, ada kegiatan lain lagi menunggu. Kantor Perpustakaan Pandeglang menggelar diskusi bedah novel “Mana Bidadari Untukku” karya Ibnu Adam Aviciena. Tempatnya di Bale Budaya Pandeglang, Alun-alun Timur Pandeglang, jam 08.00 – 12.00 WIB. Terima kasih Allah. Kami kini merasa tidak sendirian lagi. (gola gong)

Joomla Templates and Joomla Extensions by ZooTemplate.Com
 

Login Form

  • Login
  • Create an account
    Registration
    *
    *
    *
    *
    *
    Fields marked with an asterisk (*) are required.